PC PMII SAMPANG

Pesantren dalam Framing Media: Antara Adab dan Hiburan

Sampang, pmiisampang.or.id – Media massa memiliki kekuatan simbolik yang luar biasa dalam membentuk persepsi publik. Tayangan yang disiarkan di televisi tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ruang produksi makna sosial dan budaya. Ketika sebuah media nasional seperti Trans7 menayangkan cuplikan yang menggambarkan santri “minum susu sambil jongkok” disertai narasi yang bernada merendahkan, persoalannya tidak lagi sekadar “candaan”, melainkan menyentuh wilayah sensitif: adab, simbol penghormatan, dan martabat komunitas pesantren.

Dalam tradisi pendidikan pesantren, adab (etika dan tatakrama) menempati posisi yang bahkan lebih tinggi daripada ilmu itu sendiri. Para ulama klasik sering mengutip ungkapan:

_Afdhalul ilmi ilmul haal, wa afdholul amali hifdzul hal_ ”

*Ilmu yang paling utama adalah ilmu hal, dan amal yang paling utama adalah menjaga hal.”*

Gestur seperti berjalan jongkok di depan kiai, menundukkan kepala, atau minum dalam posisi rendah bukanlah bentuk penghinaan terhadap diri sendiri, tetapi ekspresi kerendahan hati dan penghormatan terhadap ilmu. Dalam epistemologi Islam tradisional, penghormatan kepada guru dan lingkungan belajar adalah bagian integral dari proses pencarian ilmu itu sendiri (ta’dib al-‘ilm).

Maka ketika simbol-simbol adab ini dijadikan bahan lelucon atau satire, tanpa penjelasan kontekstual, yang tersakiti bukan hanya santri, tetapi seluruh sistem nilai yang mengajarkan bahwa ilmu lahir dari penghormatan dan kesungguhan batin.

Secara akademik, tindakan Trans7 dapat dianalisis sebagai bentuk reduksi budaya, yaitu penyederhanaan makna kompleks suatu praktik sosial menjadi potongan visual yang tampak lucu atau aneh. Dalam teori komunikasi massa, hal ini disebut cultural misrepresentation.

Media cenderung menggunakan framing atau sudut pandang yang menyesuaikan dengan logika hiburan (entertainment logic), bukan logika edukatif. Akibatnya, pesantren yang seharusnya dipahami sebagai lembaga pembentuk karakter, spiritualitas, dan moralitas bangsa ditampilkan dalam bingkai yang menimbulkan stereotip “tradisional” dan “kolot”.

Padahal menurut perspektif sosiologi pendidikan Islam, pesantren merupakan bentuk paling murni dari pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, tempat integrasi antara ilmu, iman, dan amal.

Kasus ini seharusnya menjadi momentum bagi akademisi, santri, dan praktisi media untuk memperkuat literasi budaya dan agama dalam jurnalistik.

tiga refleksi penting:

1. Edukasi Etika Representasi.

Setiap jurnalis dan kreator media perlu memahami konteks nilai sebelum mengangkat tema keagamaan atau budaya. Kritik sosial tetap bisa dilakukan tanpa mengorbankan penghormatan terhadap simbol-simbol sakral.

2. Dialog Akademik Pesantren.

Dunia kampus dan pesantren perlu membuka ruang dialog bersama industri media untuk menjembatani perbedaan paradigma. Apa yang dianggap “biasa” dalam dunia hiburan bisa menjadi pelanggaran serius dalam etika pesantren.

3. Transformasi Literasi Publik.

Masyarakat perlu diajak memahami bahwa adab santri bukanlah perilaku kuno, tetapi ekspresi luhur dari pendidikan moral. Kesadaran ini dapat menjadi benteng melawan hegemoni budaya pop yang sering kali menertawakan nilai spiritualitas. XTrader

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top